Minggu, Desember 10, 2006

Tawamu, tawaku, lima jam berlalu,
tapi hangatnya masih tersisa dalam segelas kenangan.
Gelas yang sudah pecah jadi kepingan waktu.

Senyum yang terkulum di mulutku,
menyembunyikan segumpal tawa dari bibirmu.
Bibir yang sudah jadi beling
dari kristal terbanting

Ah, betapa manisnya waktu yang terkelupas.
Dan betapa bulir-bulir cinta di tanganmu
membasahi keringnya hidup.

Sampai kapan ku harus merangkai
kepingan hatimu?
Sementara jam dinding semakin retak.

Ah, sebegitu bodohkah aku,
memecahkan gelas waktu.